Kupikir keberadaan IG sekarang menggeser cara orang menghargai seni.
Seni atau sebuah karya tidak lagi dipandang semata-mata sebagai ekspresi jiwa senimannya tapi sebagai “alat” untuk panen likes atau memperoleh validasi diri.
Padahal kalau boleh jujur, likes di Instagram itu tidak sama dengan apresiasi seni yang sejati.
Karena dalam apresiasi seni, panca indera dari pengamat atau dari orang yang menikmati seni itu diaktifkan, mereka being involved (terlibat) dalam mengagumi dan “mencerna” suatu karya seni yang disukainya entah itu lukisan, tarian, musik atau sekedar gambar ilustrasi.
Yang pada nantinya, setelah kelima panca indera ini aktif, manusia akan masuk dalam pengaktivasian indera ke-6 nya, yaitu kemampuan mengolah rasa di batin, sehingga manusia bisa merasakan getaran-getaran yang lebih halus dari dunia makna, ide dan kejujuran yang hanya hidup di dunia awan-awan.
Namun di Instagram, apakah “indera ke-6” mu yang menjadi antena dari keindahan dan transendensi bisa aktif?
Jikalau tak sampai indera ke-6 mu, apakah kelima panca inderamu diaktifkan? Atau hanya ego dan insecurity-mu yang ditekan button-nya tanpa sadar tiap kali kamu scroll?
Dan karena jarak antara manusia dan seni sekarang mengalami perombakan dan pergeseran total melalui platform seperti Instagram maupun keberadaan Ai, manusia tidak lagi dapat mengapresiasi seni secara PROPER.
dan saat itulah Ke-AUS-an jiwa mulai terjadi.
Karena sejatinya, jiwa manusia merindukan keindahan yang transenden yang hanya bisa muncul lewat bersentuhan dengan hal-hal yang indah, estetik dan divine (ilahi)
Dan ketika itu didegradasi menjadi sekedar views dan likes, hal ini menjadi DISRUPSI yang BESAR. Bukan bagi ekonomi, namun bagi jiwa manusia sendiri, khususnya jiwa sang artist.
Karena seorang artist dapat dijumpai Kesejatiannya sejauh audiens berani menyelami keindahan karyanya.
Di situlah letak ruh dan jiwa si seniman. Makanya jika kamu bisa menyelam sampai dasar jiwamu, kamu juga dapat menemukan Ke-maha kuasaan Tuhan, karena kamu adalah ciptaan-Nya.






